Hikayat Perbedaan
karya : nurul ilmiawati ahsan
Warna
jingga hembusan mentari yang teramat menyongsong pagi, menusuk tajam pada desa
dalam hutan lebat yang jauh dari kota dan kerajaan. Disambut dengan ramah oleh
sepasang suami istri yang tak kunjung dikaruniai anak, tak heran apabila mereka
mengisi kebersamaan mereka dengan berkebun, melewati masa tuanya.
Saat
itulah terjadi peristiwa yang tak berlogika. Hutan yang letaknya teramat jauh
dari kota, bahkan jarang pendatang yangsekedar berburu, berekreasi karena
memang tak ada yang asik dalam hutan ini. “Oooekk.. Oeekk” berkali-kali itulah
yang terdengar oleh keduanya, sibuk mencari asal suara itu, nenek Ota langsung
menyergap “ Odi.. bayi jamur siapa ini?, tega sekali ibu jamur yang
menelantarkan si mungil cantik ini.. Aduuuhh.. ayo Odi kita ra..” belum selesai
berkata kakek Odi langsung memotongnya “ Ayo kota rawat Ota, berikan dia
makanan dan minuman yang cukup untuknya”, nenek Ota merasa kata-katanya telah
di curi, dengan raut muka cemberut,melewati rumah berpenghuni yang
terheran-heran dengan corak aneh yang mengelilingi tubuh bayi mungil. Berbeda
dengan nenek Ota dan kakek Odi yang takjub akan corak hijau keemasan yang
menghiasi setiap lekukan tubuhnya. “Ota bagaiman kalau kita beri nama
Mushroomano?, bagus bukan ??” tanya kakek Odi, sengit nenek Ota tegas “ Heh tua
bangka.. ini bayi jamur perempuan. Ahaaa.. bagaimana kalau Mushroomalo??”
keduanya saling bertentangan antara satu denga lainnya, seperti hari-hari biasa
itulah cara mereka meramaikan suasana yang cukup untuk memecahkan keheningan
hidup mereka. Akhirnya mereka berkata bersamaan “Mushroomita” yang menunjukkan
keserasian pendapat antara kakek Odi dan nenek Ota.
Hingga
kini bersekolah memasuki jenjang menengah Mushroomita yang kerap disapa badut
bertotol. Saat bel masuk berbunyi mengisyaratkan agar anak-anak jamur mengikuti
pelajarandengan saksama. Bu Hano yakni ibu guru di sekolah itu, sejak
tadi melihat pebedaan yang terjadi namun tidak dapat memberi peringatan ataupun
teguran “Ayo anak-anak mari perkenalkan
diri kalian satu persatu, maju ke depan ya anak-anak. Yaaa.. mulai dari kamu
Lano !!” seruan Bu Hano makin menyurutkan hati Ita, berdegap degup yang ia
rasakan. Kini tiba Ita untuk memeperkenalkan diri di depan anak-anak jamur yang
lain, kata-kata yang tak lain terucap dari bibir Lola ”HEH.. anak badut.
Ngapain kamu di sini? Ini itu sekolah yang digunakan untuk belajar, bukan untuk
permainan badutmu yang konyol itu. Hahaha” tawa hebat Lola mampu menghipnotis
kawan-kawannya untuk tertawa bersama-sama untuk menunjukkan buruk rupanya sang
badut sekolah. Terdiam dengan tetes demi tetes yang menghujani pipi Ita serta
mata sembab yang menghiasi raut wajah mungilnya, setiap sudut ruangan menatap
Ita dengan penuh pengharapan agar Ita keluar dari sekolah, akan tetapi semua
itu salah Ita tetap bersemangat untuk sekolah walaupun tancapan-tancapan pahit
yang ia rasakan bertambah pedih untuk dirasakan
karena tak ada seorangpun yang membelanya dalam situasi apapun, ia hanya
percaya bahwa kekuatan abadi berasal dari satu titik di dalam dirinya sendiri.
Bel pulang sekolah berbunyi merupakan kelegaan tersendiri yang kurang lebih
dapat melepaskan tancapan pahit yang bersangkar dalam hatinya. Seperti biasa
pulang sendiri ditemani nyanyian-nyanyian yang diajarkan kakek dan nenek
“Saatnya
pulang.. lalalalalaaa...
Goes sepeda
cilik, dengan kaki mungilku
Goes
lalalalaa... Goes lililiii...
Hati Hati
Hati, batu kayu yang mengganggu
Ayo singkirkan
!!!”
“ Kakek, nenek Ita pulang” sapanya saat sampai
dirumah “Iya-iya... ayo kesini! Nenek sudah siapkan makanan untukmu” suruhan
nenek membuatnya terhipnotis untuk menghabiskan makanan yang telah disajikan di
atas meja makan, lezat dan beraroma nikmat. Ita tercengang karena ia lupa bahwa
ia harus membantu kakek Odi agar pekerjaan kakek ringan. “ Oh iya nek, Ita
harus cepat-cepat ke kebun, Ita lupa kalau kakek sedang memanen ketela dan
jagung, Ita lanjutkan makan nanti saja ya nek ?” pintanya, “Hati-hati Ita,
jangan tergesa-gesa”dukung nenek Ota
Setiap hari berjalan seperti biasa
hiburan, canda tawa bersama keluarga, cacian, makian yang ia rasakan kini
terasa seperti angin yang bersandar di bahunya. Menginjak dewasa dengan banyak
perubahan yang terjadi, manis mempesona, tetapi tetap saja tak ada jamur lain
yang memujinya.
“Ada siapa di dalam rumah?” tanya
seorang pemuda dari kota, berpakaian bak pengawal kerajaan. Spontan Ita
beranjak dari tempat yang ia duduki “Iya tuan, ada yang dapat saya bantu? Kakek
dan nenek sedang tidak ada di rumah”. Alangkah terkejutnya sang pengawal “Apa
corak di tubuhmu ini asli adanya nona?” lantangnya. “Benar tuan, maaf jikalau
saya terlalu mengejutkan tuan. Saya sadar bahwa saya memang seperti badut”.
“Emm.. tidak. Maaf aku telah lancang, bukan maksudku begitu nona cantik!”
prngawal mencoba menenangkan hati Ita
dengan pujian-pujian yang berujung pada permintaan tambahan bekal perjalanan.
Karena kerendahatiannya, sang pengawal menawarkan diri untuk mengajak Ita ke
kota kerajaan untuk ikut memecahkan misteri karena sangpengawal merasa ada
kebijaksanaan yang terpancar dari sepasang mata Ita yang berbinar. Sanggahan
yang hanya meluncur dihadapan sang pengawal “Maaf tuan, tidak mungkin badut
seperti saya mempunyai keistimewaan yang
berlebih, saya hanya bisa berkebun”.
Tiba-tiba seruan langkah kaki
bergelombang terdengar dari arah samping, Ita sedikit takut dan mendadak tak
sadar, ia melihat gerombolan pengawal kerajaan yang banyak berkumpul di depan
rumah Ita, takut akanresiko yang akan dihadapinya yang tak lama kemudian di
susul kedatangan kakek Odi dan nenek
Ota, mereka terheran-heran akan keheningan yang tercetak di wajah Ita serta
para pengawal, sampai akhirnya salah seorang pengawal menjelaskan semua yang
terjadi. Bujuk rayuan dikeluarkan para prajurit agar Ita di izinkan untuk pergi
ke kota memecahkan misteri dalam
sayembara yang akan dilakukan seleksian. Sampai akhirnya kakek dan nenek
berkata “Jaga cucuku baik-baik, jangan biarkakan dia terluka sedikitpun karena
ulah tangan kotor kalian”, pesan tegas keduanya terbalaskan
oleh kesantunan Ita “Kakek, nenek. Ita sayang kalian, doakan Ita agar Ita
selamat dan Ita janji, Ita akan kembali secepatnya dengan kabar baik juga tanpa
tangan kosong”. Peralihan dunia yang tadi tegang kini menjadi haru berhujan
tangis.
Di tengah perjalanan, para pengawal
layaknya sudah terlalu lihai di dalam hutan, setiap pergantian jam, mereka
saling berjaga agar tak ada bahaya yang mengancam. Bekal makanan yang rapi dan
perlengakapan ialah sosok pertama yang Ita lihat, tak heran lagi ia mengambil
cuplikan teka-teki sayembara yang tak tahu dimana letak jeda untuk membuka
misteri ini.
“Hilangnya Saga
Lentera Daun Keemasan Yang Bercorak”
Sambil
melanjutkan perjalanan, mereka tak lain Ita dan para pengawal sibuk dengan
pikirannya masing-masing yang mencoba memecahkan teka-teki sayembara karena
imbalan tak menyengsarakan. Namun hati polos Ita berkata lain, pikirannya hara
terpacu pada jawaban yang tak jauh dari hiruk pikuk dirinya, karena firasat
yang bergemuruh.
Ita yang sejak awal memakai pakaian
berjubah agar tubuhnya tertutup rapat-rapat, berfikir tentang tanggapan orang
lain terhadap dirinya. Sesampainya di istana megah, tak disangka telah banyak
para rakyat serta bangsawan berkumpul, ingin merobohkan misteri sejak 18 th
lamanya tidak terpecahkan. Raja yang tegas berkata “Yang pertama, hendaklah
kalian menjawab tanpa berfikir panjang mengecohkan waktu, apabila kalian bisa
menjawab dan memberiku pentunjuk benda atau apapun, akan ku beri hadiah besar,
tetapi apabila kalian tidak bisa, langsung saja menuju kegerbang utama dengan
memikul ribuan malu”. Tantangan Raja sangat bijak juga memburu tegas ketakutan
bercampur kegigihan.Yang tak lain muncul hanya keheningan semata yang teramat
panjang. Sosok yang di tunggu-tunggu datang, bangsaawan jamur dari timur
bersedia menjawab teka-teki abstrak itu “ Tuanku baginda, saya tahu. Hilangnya
Saga berartikan koin yang kini tidak beredar lagi, Lentera Daun Keemasan berarti lambang yang ada di dalamnya, serta
Yang Bercorak adalah corak dari daun tersebut tuanku”. Raja yang hanya diam
memberikan isyarat tangan yang mengisyaratkan usiran tegas sang Raja. Rona
wajah malu, sedih, menyesal menjadi kegusaran bagi jamu-jamur yang lain. Telah
pupus harapan Raja yang ingin sekali teka-teki itu terjawabkan, karena
penyihirlah yang menyatakan teka-teki ini. Berjam-jam berlalu Raja hanya
mengisyaratkan tangannya untuk menyuruh para pemberani keluar dari istana. Tiba-tiba,
mungkin bukan bangsawan, bukan juga orang biasa, tak khayal lagi Ita
memberanikan diri. Dalam lekat tatapan Raja, ia menjawab ”Hilangnya Saga
Lentera ialah hikayat yang hilang dalam hidup
Baginda” terdiam sejenak para jamur melojak sadar arti itu, lalu
berlanjut “Dan Daun Keemasan Yang Bercorak berartikan corak dari tubuh saya
tuanku” semakin tebelalaknya mata semua
jamur karena jubah yang Ita kenakan dilepasnya seketika. Kegusaran, kepanikan
menjadi sikap keheranan yang tak berujung tanya. Raja yang awalnya bersikap
pasrah menegang kini bersikap tergopoh-gopoh meraih Ita untuk memeluknya “Goldiary
Shroomanakku, kau telah kembali, sekian lama ayah menanti, kini kau kembali dengan
kesempurnaanmu anakku. Semua prajurit dan pengawal telah ku kerahkan untuk
mencarimu, namun mereka hanya pulang bertangan kosong, tanpa kau Goldiary”
tangisan tercuat diwajah baginda, para pengawal yang sudah lebih dulu bertemu
Ita tak sadar akan keajaiban itu.
Keharuan semakin mencekik dan Ita hanya terdiam dalam dekapan hangat ayahnya yang
mulai menyusut lepas.
Lontaran cerita demi cerita
tercurahkan hingga terungkapnya acuan corak tubuh kebijaksanaan Goldiary Shroom
yang tetap menjadi Ita, Mushroomita. Lecehan, cacian jamur lain surut mereda,
berbalik mengagumi sosok tersebut karena corak hijau melambangkan
kebijaksanaan, dan emas adalah sumber kesempurnaan abadi yang sesungguhnya.
Kehidupannya bergejolak dengan istana tempat sang ibu mengandungya, ia memilih
berkebun bersama kakek Odi dan nenek Ota yang telah merawatnya dari kecil.
Baginda sering kali ikut serta menikmati keindahan desa terpencil di dalam
hutan, menghabiskan waktu layaknya keluarga yang utuh.