Minggu, 11 Januari 2015

cerita anak bangsa

Hikayat Perbedaan
karya : nurul ilmiawati ahsan
Warna jingga hembusan mentari yang teramat menyongsong pagi, menusuk tajam pada desa dalam hutan lebat yang jauh dari kota dan kerajaan. Disambut dengan ramah oleh sepasang suami istri yang tak kunjung dikaruniai anak, tak heran apabila mereka mengisi kebersamaan mereka dengan berkebun, melewati masa tuanya.
Saat itulah terjadi peristiwa yang tak berlogika. Hutan yang letaknya teramat jauh dari kota, bahkan jarang pendatang yangsekedar berburu, berekreasi karena memang tak ada yang asik dalam hutan ini. “Oooekk.. Oeekk” berkali-kali itulah yang terdengar oleh keduanya, sibuk mencari asal suara itu, nenek Ota langsung menyergap “ Odi.. bayi jamur siapa ini?, tega sekali ibu jamur yang menelantarkan si mungil cantik ini.. Aduuuhh.. ayo Odi kita ra..” belum selesai berkata kakek Odi langsung memotongnya “ Ayo kota rawat Ota, berikan dia makanan dan minuman yang cukup untuknya”, nenek Ota merasa kata-katanya telah di curi, dengan raut muka cemberut,melewati rumah berpenghuni yang terheran-heran dengan corak aneh yang mengelilingi tubuh bayi mungil. Berbeda dengan nenek Ota dan kakek Odi yang takjub akan corak hijau keemasan yang menghiasi setiap lekukan tubuhnya. “Ota bagaiman kalau kita beri nama Mushroomano?, bagus bukan ??” tanya kakek Odi, sengit nenek Ota tegas “ Heh tua bangka.. ini bayi jamur perempuan. Ahaaa.. bagaimana kalau Mushroomalo??” keduanya saling bertentangan antara satu denga lainnya, seperti hari-hari biasa itulah cara mereka meramaikan suasana yang cukup untuk memecahkan keheningan hidup mereka. Akhirnya mereka berkata bersamaan “Mushroomita” yang menunjukkan keserasian pendapat antara kakek Odi dan nenek Ota.
Hingga kini bersekolah memasuki jenjang menengah Mushroomita yang kerap disapa badut bertotol. Saat bel masuk berbunyi mengisyaratkan agar anak-anak jamur  mengikuti  pelajarandengan saksama. Bu Hano yakni ibu guru di sekolah itu, sejak tadi melihat pebedaan yang terjadi namun tidak dapat memberi peringatan ataupun teguran  “Ayo anak-anak mari perkenalkan diri kalian satu persatu, maju ke depan ya anak-anak. Yaaa.. mulai dari kamu Lano !!” seruan Bu Hano makin menyurutkan hati Ita, berdegap degup yang ia rasakan. Kini tiba Ita untuk memeperkenalkan diri di depan anak-anak jamur yang lain, kata-kata yang tak lain terucap dari bibir Lola ”HEH.. anak badut. Ngapain kamu di sini? Ini itu sekolah yang digunakan untuk belajar, bukan untuk permainan badutmu yang konyol itu. Hahaha” tawa hebat Lola mampu menghipnotis kawan-kawannya untuk tertawa bersama-sama untuk menunjukkan buruk rupanya sang badut sekolah. Terdiam dengan tetes demi tetes yang menghujani pipi Ita serta mata sembab yang menghiasi raut wajah mungilnya, setiap sudut ruangan menatap Ita dengan penuh pengharapan agar Ita keluar dari sekolah, akan tetapi semua itu salah Ita tetap bersemangat untuk sekolah walaupun tancapan-tancapan pahit yang ia rasakan bertambah pedih untuk dirasakan  karena tak ada seorangpun yang membelanya dalam situasi apapun, ia hanya percaya bahwa kekuatan abadi berasal dari satu titik di dalam dirinya sendiri. Bel pulang sekolah berbunyi merupakan kelegaan tersendiri yang kurang lebih dapat melepaskan tancapan pahit yang bersangkar dalam hatinya. Seperti biasa pulang sendiri ditemani nyanyian-nyanyian yang diajarkan kakek dan nenek
“Saatnya pulang..  lalalalalaaa...
Goes sepeda cilik, dengan kaki mungilku
Goes lalalalaa... Goes lililiii...
Hati  Hati  Hati, batu kayu yang mengganggu
Ayo singkirkan !!!”
 “ Kakek, nenek Ita pulang” sapanya saat sampai dirumah “Iya-iya... ayo kesini! Nenek sudah siapkan makanan untukmu” suruhan nenek membuatnya terhipnotis untuk menghabiskan makanan yang telah disajikan di atas meja makan, lezat dan beraroma nikmat. Ita tercengang karena ia lupa bahwa ia harus membantu kakek Odi agar pekerjaan kakek ringan. “ Oh iya nek, Ita harus cepat-cepat ke kebun, Ita lupa kalau kakek sedang memanen ketela dan jagung, Ita lanjutkan makan nanti saja ya nek ?” pintanya, “Hati-hati Ita, jangan tergesa-gesa”dukung nenek Ota
            Setiap hari berjalan seperti biasa hiburan, canda tawa bersama keluarga, cacian, makian yang ia rasakan kini terasa seperti angin yang bersandar di bahunya. Menginjak dewasa dengan banyak perubahan yang terjadi, manis mempesona, tetapi tetap saja tak ada jamur lain yang memujinya.
            “Ada siapa di dalam rumah?” tanya seorang pemuda dari kota, berpakaian bak pengawal kerajaan. Spontan Ita beranjak dari tempat yang ia duduki “Iya tuan, ada yang dapat saya bantu? Kakek dan nenek sedang tidak ada di rumah”. Alangkah terkejutnya sang pengawal “Apa corak di tubuhmu ini asli adanya nona?” lantangnya. “Benar tuan, maaf jikalau saya terlalu mengejutkan tuan. Saya sadar bahwa saya memang seperti badut”. “Emm.. tidak. Maaf aku telah lancang, bukan maksudku begitu nona cantik!” prngawal mencoba menenangkan  hati Ita dengan pujian-pujian yang berujung pada permintaan tambahan bekal perjalanan. Karena kerendahatiannya, sang pengawal menawarkan diri untuk mengajak Ita ke kota kerajaan untuk ikut memecahkan misteri karena sangpengawal merasa ada kebijaksanaan yang terpancar dari sepasang mata Ita yang berbinar. Sanggahan yang hanya meluncur dihadapan sang pengawal “Maaf tuan, tidak mungkin badut seperti saya  mempunyai keistimewaan yang berlebih, saya hanya bisa berkebun”.
            Tiba-tiba seruan langkah kaki bergelombang terdengar dari arah samping, Ita sedikit takut dan mendadak tak sadar, ia melihat gerombolan pengawal kerajaan yang banyak berkumpul di depan rumah Ita, takut akanresiko yang akan dihadapinya yang tak lama kemudian di susul kedatangan  kakek Odi dan nenek Ota, mereka terheran-heran akan keheningan yang tercetak di wajah Ita serta para pengawal, sampai akhirnya salah seorang pengawal menjelaskan semua yang terjadi. Bujuk rayuan dikeluarkan para prajurit agar Ita di izinkan untuk pergi ke kota memecahkan  misteri dalam sayembara yang akan dilakukan seleksian. Sampai akhirnya kakek dan nenek berkata “Jaga cucuku baik-baik, jangan biarkakan dia terluka sedikitpun karena ulah tangan  kotor  kalian”, pesan tegas keduanya terbalaskan oleh kesantunan Ita “Kakek, nenek. Ita sayang kalian, doakan Ita agar Ita selamat dan Ita janji, Ita akan kembali secepatnya dengan kabar baik juga tanpa tangan kosong”. Peralihan dunia yang tadi tegang kini menjadi haru berhujan tangis.
            Di tengah perjalanan, para pengawal layaknya sudah terlalu lihai di dalam hutan, setiap pergantian jam, mereka saling berjaga agar tak ada bahaya yang mengancam. Bekal makanan yang rapi dan perlengakapan ialah sosok pertama yang Ita lihat, tak heran lagi ia mengambil cuplikan teka-teki sayembara yang tak tahu dimana letak jeda untuk membuka misteri ini.
“Hilangnya Saga Lentera Daun Keemasan Yang Bercorak”
Sambil melanjutkan perjalanan, mereka tak lain Ita dan para pengawal sibuk dengan pikirannya masing-masing yang mencoba memecahkan teka-teki sayembara karena imbalan tak menyengsarakan. Namun hati polos Ita berkata lain, pikirannya hara terpacu pada jawaban yang tak jauh dari hiruk pikuk dirinya, karena firasat yang bergemuruh.
            Ita yang sejak awal memakai pakaian berjubah agar tubuhnya tertutup rapat-rapat, berfikir tentang tanggapan orang lain terhadap dirinya. Sesampainya di istana megah, tak disangka telah banyak para rakyat serta bangsawan berkumpul, ingin merobohkan misteri sejak 18 th lamanya tidak terpecahkan. Raja yang tegas berkata “Yang pertama, hendaklah kalian menjawab tanpa berfikir panjang mengecohkan waktu, apabila kalian bisa menjawab dan memberiku pentunjuk benda atau apapun, akan ku beri hadiah besar, tetapi apabila kalian tidak bisa, langsung saja menuju kegerbang utama dengan memikul ribuan malu”. Tantangan Raja sangat bijak juga memburu tegas ketakutan bercampur kegigihan.Yang tak lain muncul hanya keheningan semata yang teramat panjang. Sosok yang di tunggu-tunggu datang, bangsaawan jamur dari timur bersedia menjawab teka-teki abstrak itu “ Tuanku baginda, saya tahu. Hilangnya Saga berartikan koin yang kini tidak beredar lagi, Lentera Daun Keemasan  berarti lambang yang ada di dalamnya, serta Yang Bercorak adalah corak dari daun tersebut tuanku”. Raja yang hanya diam memberikan isyarat tangan yang mengisyaratkan usiran tegas sang Raja. Rona wajah malu, sedih, menyesal menjadi kegusaran bagi jamu-jamur yang lain. Telah pupus harapan Raja yang ingin sekali teka-teki itu terjawabkan, karena penyihirlah yang menyatakan teka-teki ini. Berjam-jam berlalu Raja hanya mengisyaratkan tangannya untuk menyuruh para pemberani keluar dari istana. Tiba-tiba, mungkin bukan bangsawan, bukan juga orang biasa, tak khayal lagi Ita memberanikan diri. Dalam lekat tatapan Raja, ia menjawab ”Hilangnya Saga Lentera ialah hikayat yang hilang dalam hidup  Baginda” terdiam sejenak para jamur melojak sadar arti itu, lalu berlanjut “Dan Daun Keemasan Yang Bercorak berartikan corak dari tubuh saya tuanku”  semakin tebelalaknya mata semua jamur karena jubah yang Ita kenakan dilepasnya seketika. Kegusaran, kepanikan menjadi sikap keheranan yang tak berujung tanya. Raja yang awalnya bersikap pasrah menegang kini bersikap tergopoh-gopoh meraih Ita untuk memeluknya “Goldiary Shroomanakku, kau telah kembali, sekian lama ayah  menanti, kini kau kembali dengan kesempurnaanmu anakku. Semua prajurit dan pengawal telah ku kerahkan untuk mencarimu, namun mereka hanya pulang bertangan kosong, tanpa kau Goldiary” tangisan tercuat diwajah baginda, para pengawal yang sudah lebih dulu bertemu Ita tak sadar akan keajaiban  itu. Keharuan semakin mencekik dan Ita hanya terdiam dalam dekapan hangat ayahnya yang mulai menyusut lepas.

            Lontaran cerita demi cerita tercurahkan hingga terungkapnya acuan corak tubuh kebijaksanaan Goldiary Shroom yang tetap menjadi Ita, Mushroomita. Lecehan, cacian jamur lain surut mereda, berbalik mengagumi sosok tersebut karena corak hijau melambangkan kebijaksanaan, dan emas adalah sumber kesempurnaan abadi yang sesungguhnya. Kehidupannya bergejolak dengan istana tempat sang ibu mengandungya, ia memilih berkebun bersama kakek Odi dan nenek Ota yang telah merawatnya dari kecil. Baginda sering kali ikut serta menikmati keindahan desa terpencil di dalam hutan, menghabiskan waktu layaknya keluarga yang utuh.
Posted on by nurul ilmiawati ahsan | No comments

0 komentar:

Posting Komentar