Selasa, 06 Januari 2015

kearifan lokal daerah jawa tengah

TUGAS
KEARIFAN LOKAL DAERAH JAWA TENGAH

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Kealaman Dasar
Dosen Pengampu : Ibu Fajar Fitri







Disusun Oleh :
CAHYO SETIADI                       (1400005316)
LANI UDIARTI                           (1400005317)
MIFLATINNISA                          (1400005321)
NURUL ILMIAWATI AHSAN    (1400005325)
1G

PROGRAM PG SEKOLAH DASAR
UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN


Candi di Wilayah jawa Tengah
Upacara Keagamaan yang Dilakukan Masyarakat Hindu (Tawur Agung Kesanga)
Candi merupakan karya monumental nenek moyang bangsa, aset bangsa yang siapapun dapat menikmatinya tanpa memandang suka, ras dan agama. Candi Prambanan sebagai tempat suci dan secara bersamaan di sisi lain fungsinya sebagai destinasi wisata, struktur bangunan maha megah sebuah tempat ibadah yang wajib dijaga kesuciannya bersama-sama.
Pemeluk agama Hindu di daerah Prambanan, yogyakarta dan sekitarnya pergi ke Candi Prambanan  untuk mengikuti ritual Tawur Agung Kesanga yang diadakan dalam rangkaian menuju Cathur Brata Penyepian dengan memakai baju adat  Jawa, namun kebanyakan memakai pakaian adat Bali.  Ritual Tawur Agung Kesanga bertujuan untuk mengusir roh jahat dari alam semesta beserta isinya dan aura negatif.
Temanya adalah persaudaraan untuk membangun kebersamaan. Untuk Yogyakarta sendiri mengusung tema kegiatan "Kanthi Luhuring Budi, Umat Hindu Memetri Budaya Ngudi Raharjaning Praja" yang berarti dengan keluhuran budi, umat hindu melestarikan budaya luhur guna pencapaian kesejahteraan bangsa dan negara. Makna sesungguhnya dari prosesi ritual keagamaan ini  adalah perenungan dan introspeksi diri dari dalam diri seseorang lahiriah maupun batiniah.
.
Malam sebelum melakukan sembahyang. Umat Hindu Boyolali memilih malam Selasa Kliwon sebagai waktu yang tepat untuk mengambil air suci. Sebab, malam itu dipercaya sebagai malam Anggora Kasih. Mereka pun menciduk air suci lewat prosesiNunas Tirta yang dipimpin seorang Pinandite. Sang Pinandite pun memimpin sembahyang sebagai permintaan izin kepada penguasa Sumber Air Umbul Sungsang. Kemudian, upacara dilanjutkan dengan serangkaian prosesi lain melalui perantara Pemangku Pura. 
Di Klaten, umat Hindu setempat sengaja menggelar prosesi serupa pada tengah malam. Mereka memulai upacara di Pura Buana Pluneng. Dari situ, umat berjalan beriringan menuju Sumber Air Geneng di Desa Randul. Begitu tiba di lokasi, Pemangku Pura memimpin sembahyang: meminta restu Hyang Baruna, sang penguasa Sumber Air Geneng. Selanjutnya, seorang umat mesti menceburkan diri mengambil air suci yang telah diberi restu. 
Sementara umat Hindu di Semarang tak memilih hari gelap untuk mengambil air suci. Namun ketika sang mentari menyongsong petang, barulah umat Hindu di sana melaksanakan prosesi Nunas Tirta dari Sumber Air Rawa Pening. Berbekal aneka dupa dan sesajen sebagai persembahan, mereka berperahu menuju pusat sumber air. Di tengah rawa, semua sesajen dilempar sehingga menyebabkan air yang semula tenang langsung berbuih bak mendidih. Ini diyakini peserta prosesi sebagai restu dari si penguasa Rawa Pening buat mengambil air suci. 
Nah, air suci dari ketiga sumber air itulah yang dibawa umat Hindu ke Candi Prambanan. Ketiga air suci tersebut akan disatukan dengan empat tirta suci lainnya dalam ritual pemberkatan di Candi Prambanan, satu hari sebelum Hari Raya Nyepi atau Tahun Baru Saka 1924. 
Menjelang pagi hari di Prambanan, semua tirta suci dan aneka sesajen yang telah di-Melasti-kan harus dibawa menuju Candi Ratu Boko. Letaknya sekitar dua kilometer sebelah selatan Prambanan. Situs yang pertama kali ditemukan seorang Belanda bernama van Boecholtz pada 1790 ini dipilih lantaran menjadi peninggalan Hindu tertua di Jawa. 
Prosesi di candi yang dibangun pada abad VIII Masehi itu cuma berlangsung beberapa menit dengan dipimpin seorang Pandite. Sesudahnya, semua air suci dan sesajen dibawa kembali ke Candi Rorojonggrang--nama lain Prambanan, sesuai legenda masyarakat Jawa. Begitu tiba di Prambanan, umat Hindu langsung berjalan beriringan mengelilingi kompleks candi dengan dikawal prajurit Kasultanan Ngayogyakarta. 
Ketika , tujuh tirta suci dan aneka sesajen telah siap di pelataran candi, tepatnya di depan panggung persembahyangan. Pemberkatan pun dimulai lewat bunyi lonceng Pandita Resi Gunawan dan Sri Begawan Istri Agung Ratu Gayatri. Pemberkatan tirta suci adalah puncak prosesi Wisuda Bumi, sebuah prosesi akbar yang dipercaya sebagai doa keselamatan bagi alam beserta isinya. 

Langkah-langkah sembahyangan ssetelah tersedianya tirta suci :
1.    Umat Hindu sembahyang bersama di pelataran candi Prambanan.
2.    Pendeta memercikkan air suci kepada umat.
Tari Sesaji mamariahkan ritual Tawur Agung Kesanga. Tari Barong menambah daya tarik dalam ritual Tawur Agung Kesanga. (perwujudan makhluk astral yang sering disebutogoh-ogoh yang merupakan perlambang angkara murka yang senantiasa menebarkan keburukan di alam semesta.





3.    Atraksi Ogoh-ogoh.





4.    Setelah ditampilkan, ogoh-ogoh akan dikirim kembali ke masing-masing daerah untuk diarak keliling kampung dan kemudian ogoh-ogoh ini dimusnahkan dengan cara dibakar.  (Ogoh-ogoh diarak keliling kampung dengan tujuan agar wilayah sekitar terbebas dari angkara murka.)

5.    Rayahan sesaji (Sesajen yang di siapkan mulai dirayah). Aneka sesajen diyakini sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada Sang Pencipta. Isinya tak sekadar nasi beserta lauk, tapi juga jahe, garam, dan kembang sebagai wewangian. Ada juga golong atau nasi yang dibentuk menjadi bulatan serta budu atau nasi kerucut di antara sesajen tadi. Nasi kerucut selalu berjumlah sebelas. Artinya eka dasarudra atau sebelas arah mata angin. Sementara golong terdiri dari empat dan delapan. Empat melambangkan arah mata angin utama: timur, selatan, barat, dan utara. Sedangkan delapan menjadi pelengkap arah mata angin: barat laut, barat daya, timur laut, dan tenggara.

Jika semua prosesi telah dilaksanakan degan baik, siaplah humat hindu merayakan ibadah nyepi di rumah masing-masing.

Daftar Pustaka

Blog dari Kurniawan Adi Nugroho
Posted on by nurul ilmiawati ahsan | No comments

0 komentar:

Posting Komentar