TUGAS
KEARIFAN LOKAL DAERAH JAWA TENGAH
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Kealaman Dasar
Dosen Pengampu : Ibu Fajar Fitri
Disusun Oleh :
CAHYO
SETIADI (1400005316)
LANI
UDIARTI (1400005317)
MIFLATINNISA (1400005321)
NURUL
ILMIAWATI AHSAN (1400005325)
1G
PROGRAM
PG SEKOLAH DASAR
UNIVERSITAS
AHMAD DAHLAN
Candi di Wilayah jawa Tengah
Upacara Keagamaan yang Dilakukan
Masyarakat Hindu (Tawur Agung Kesanga)
Candi merupakan karya monumental nenek
moyang bangsa, aset bangsa yang siapapun dapat menikmatinya tanpa memandang
suka, ras dan agama. Candi Prambanan sebagai tempat suci dan secara bersamaan
di sisi lain fungsinya sebagai destinasi wisata, struktur bangunan maha megah
sebuah tempat ibadah yang wajib dijaga kesuciannya bersama-sama.
Pemeluk agama Hindu di daerah Prambanan,
yogyakarta dan sekitarnya pergi ke Candi Prambanan untuk mengikuti ritual Tawur Agung Kesanga
yang diadakan dalam rangkaian menuju Cathur Brata Penyepian dengan memakai baju
adat Jawa, namun kebanyakan memakai
pakaian adat Bali. Ritual Tawur Agung
Kesanga bertujuan untuk mengusir roh jahat dari alam semesta beserta isinya dan
aura negatif.
Temanya adalah persaudaraan untuk membangun
kebersamaan. Untuk Yogyakarta sendiri mengusung tema kegiatan "Kanthi
Luhuring Budi, Umat Hindu Memetri Budaya Ngudi Raharjaning Praja" yang
berarti dengan keluhuran budi, umat hindu melestarikan budaya luhur guna
pencapaian kesejahteraan bangsa dan negara. Makna sesungguhnya dari prosesi ritual keagamaan ini adalah perenungan dan introspeksi diri dari
dalam diri seseorang lahiriah maupun batiniah.
.
Malam sebelum melakukan sembahyang. Umat Hindu Boyolali memilih malam Selasa
Kliwon sebagai waktu yang tepat untuk mengambil air suci. Sebab, malam itu
dipercaya sebagai malam Anggora
Kasih. Mereka pun menciduk air suci lewat prosesiNunas Tirta yang dipimpin seorang Pinandite. Sang Pinandite pun
memimpin sembahyang sebagai permintaan izin kepada penguasa Sumber Air Umbul
Sungsang. Kemudian, upacara dilanjutkan dengan serangkaian prosesi lain melalui
perantara Pemangku Pura.
Di Klaten, umat Hindu setempat sengaja
menggelar prosesi serupa pada tengah malam. Mereka memulai upacara di Pura
Buana Pluneng. Dari situ, umat berjalan beriringan menuju Sumber Air Geneng di
Desa Randul. Begitu tiba di lokasi, Pemangku Pura memimpin sembahyang: meminta
restu Hyang Baruna, sang penguasa Sumber Air Geneng. Selanjutnya, seorang umat
mesti menceburkan diri mengambil air suci yang telah diberi restu.
Sementara umat Hindu di Semarang tak
memilih hari gelap untuk mengambil air suci. Namun ketika sang mentari
menyongsong petang, barulah umat Hindu di sana melaksanakan prosesi Nunas Tirta
dari Sumber Air Rawa Pening. Berbekal aneka dupa dan sesajen sebagai
persembahan, mereka berperahu menuju pusat sumber air. Di tengah rawa, semua
sesajen dilempar sehingga menyebabkan air yang semula tenang langsung berbuih
bak mendidih. Ini diyakini peserta prosesi sebagai restu dari si penguasa Rawa
Pening buat mengambil air suci.
Nah, air suci dari ketiga sumber air
itulah yang dibawa umat Hindu ke Candi Prambanan. Ketiga air suci tersebut akan
disatukan dengan empat tirta suci lainnya dalam ritual pemberkatan di Candi
Prambanan, satu hari sebelum Hari Raya Nyepi atau Tahun Baru Saka 1924.
Menjelang pagi hari di Prambanan, semua
tirta suci dan aneka sesajen yang telah di-Melasti-kan harus dibawa menuju
Candi Ratu Boko. Letaknya sekitar dua kilometer sebelah selatan Prambanan.
Situs yang pertama kali ditemukan seorang Belanda bernama van Boecholtz pada
1790 ini dipilih lantaran menjadi peninggalan Hindu tertua di Jawa.
Prosesi di candi yang dibangun pada abad
VIII Masehi itu cuma berlangsung beberapa menit dengan dipimpin seorang
Pandite. Sesudahnya, semua air suci dan sesajen dibawa kembali ke Candi Rorojonggrang--nama
lain Prambanan, sesuai legenda masyarakat Jawa. Begitu tiba di Prambanan, umat
Hindu langsung berjalan beriringan mengelilingi kompleks candi dengan dikawal
prajurit Kasultanan Ngayogyakarta.
Ketika , tujuh tirta suci dan aneka
sesajen telah siap di pelataran candi, tepatnya di depan panggung
persembahyangan. Pemberkatan pun dimulai lewat bunyi lonceng Pandita Resi
Gunawan dan Sri Begawan Istri Agung Ratu Gayatri. Pemberkatan tirta suci adalah
puncak prosesi Wisuda Bumi, sebuah prosesi akbar yang dipercaya sebagai doa
keselamatan bagi alam beserta isinya.
Langkah-langkah sembahyangan ssetelah tersedianya tirta suci :
1.
Umat Hindu sembahyang bersama di pelataran
candi Prambanan.
2. Pendeta memercikkan air suci kepada umat.
Tari Sesaji mamariahkan ritual Tawur Agung
Kesanga. Tari Barong menambah daya tarik dalam ritual Tawur Agung Kesanga.
(perwujudan makhluk astral yang sering disebutogoh-ogoh yang merupakan
perlambang angkara murka yang senantiasa menebarkan keburukan di alam semesta.
3.
Atraksi Ogoh-ogoh.
4.
Setelah ditampilkan, ogoh-ogoh akan
dikirim kembali ke masing-masing daerah untuk diarak keliling kampung dan
kemudian ogoh-ogoh ini dimusnahkan dengan cara dibakar.
(Ogoh-ogoh diarak keliling kampung dengan tujuan agar wilayah
sekitar terbebas dari angkara murka.)
5.
Rayahan sesaji (Sesajen yang di siapkan
mulai dirayah). Aneka sesajen diyakini sebagai ungkapan rasa terima
kasih kepada Sang Pencipta. Isinya tak sekadar nasi beserta lauk, tapi juga
jahe, garam, dan kembang sebagai wewangian. Ada juga golong atau nasi yang dibentuk menjadi
bulatan serta budu atau nasi kerucut di antara sesajen
tadi. Nasi kerucut selalu
berjumlah sebelas. Artinya eka
dasarudra atau sebelas arah
mata angin. Sementara golong terdiri dari empat dan delapan. Empat melambangkan
arah mata angin utama: timur, selatan, barat, dan utara. Sedangkan delapan
menjadi pelengkap arah mata angin: barat laut, barat daya, timur laut, dan
tenggara.
Jika semua prosesi telah dilaksanakan degan
baik, siaplah humat hindu merayakan ibadah nyepi di rumah masing-masing.
Daftar Pustaka
Blog dari Kurniawan Adi Nugroho

0 komentar:
Posting Komentar